Sabtu, 31 Agustus 2013

Senja-ku dipermainkan cuaca dan ia

Aku suka menikmati senja, hangatnya,sinarnya,sepoi angin dikala senja menyejukkan hatiku.

Namun kali ini aku tak bisa menikmati senja yang sehari-hari aku nikmati dengan rasa bersyukur.
Biasanya setiap sore aku menikmati senja bersama lelaki gagah,bermata sipit,berambut hitam,bebadan tegap,dengan suara yang khas dan beraksen nada kalimantan-surabaya. 
Aku merajut tali kasih bersamanya lebih dari satu tahun. Tapi sayangnya tali kasih itu putus 3 bulan yang lalu tepat pada bulan mei. Hatiku serasa diterpa kepingan-kepingan beling yang datang menyerbu lalu menyayat hingga berdarah-darah. Aku ingat pertama kali ia meminta ku untuk menjadi wanitanya,kata yang manis dimana aku yakin setiap wanita ketika mendengar kata itu kaum hawa langsung luluh. Ia meminta ku untuk menjadi pendamping hidupnya tak hanya untuk saat ini tapi untuk selamanya. A­ku ingat disaat itu ia memintaku mejadi pendampingnya ketika esok dia harus bertanding ke filipina untuk menharumkan negriku tercinta. Aku bangga dengannya.

Aku menerima cintanya , sudah banyak hal yang ku pertimbangkan mengapa aku mau menjadi wanitanya. Terlebih karena kami memuji satu Tuhan yang sama,ia memiliki iman yang kuat,ia menyayangi sesosok perempuan tua yaitu wanita yang telah melahirkannya ke dunia ini. Iya,itu Ibu nya. Wanita yang kuketahui sangat ramah,halus dan baik sekali padaku. Ia mendukung hubunganku dengan anak lelakinya itu. Setelah 8 bulan perjalanan cinta ku dengannya seketika sikapnya berubah,entah mengapa dia sangat dingin. Aku seperti asing jika berada didekatnya,aku seperti dipaksa aku harus menjadi orang lain. Tapi sikap dinginnya hanya nampak sebulan,aku berpikir mungkin karena kita jarang bertemu dan berkomunikasi yang intens jadi ketika bertemu kami jadi merasa asing. Ya memang untuk berkomunikasi dengannya sangat sulit, alat komunikasinya hanya diberikan padanya hanyalah 1 minggu sekali,karena memang peraturan di mess yang bersarang atlit tepok bulu begitu. Dan untuk bertemu ya memang hanya weekend saja kami dapat bertemu. Itupun hanya bisa pada sore hari,maka dari itu kami hanya bisa menikmati senja saja kalaupun sempat. Setiap senja yang kulewati selalu bahagia dengannya,selalu menyenangkan selalu menghangatkan. Sampai pada akhirnya kami bertahan 14 bulan atas hubungan ini.

Tiba di bulan mei dimana ini bulan terburukku,dimana di bulan ini kepalaku selalu terasa sakit,kantung mataku makin menghitam dikarenakan aku mengetahui ia telah membohongiku. Aku menjauh aku tak mau mencoba mencari tau tentangnya , sesekali ia menghubungi ku menanyakan kabarku , ibunya pun begitu. Ibunya sangat perhatian padaku. Aku semakin merasa tertekan,aku tak mau kembali padanya dikarenakan trauma atas kebohongannya yang ia telah lakukan padakau , tapi disatu sisi aku juga mau kembali padanya,satu tahun bagiku mengabiskan waktu untuk bertukar pikiran dan mengenalnya lebih jauh sangatlah cukup lama. Yang kubenci ialah setiap menanyakan kabarku ia selalu menggalkan kata rindu,aku tak mungkin membalasnya dengan kata rindu juga,aku takut. Ini seperti mimpi buruk. Ia meninggalkan kata pesan dikala hubungan kami sudah tak seerat dan sedekat dulu. Ingin memang kukatakan aku rindu padanya...

Aku rindu dikala ia orang satu-satunya yang bisa menenangkan emosiku

Aku rindu disaat-saat aku lupa akan Tuhan dia mengingatkanku

Aku rindu setiap sentuhan tangannya ditanganku

Aku rindu setiap kecupan yang ia landasakan di keningku

Dan yang terakhir aku rindu menikmati senja ku dengannya.

Hari ini cuaca mendung dan sangat tak mendukung untukku menikmati senja. Dan tiba-tiba ia juga membuat senjaku menjadi suram karena kata rindu yang ia tinggalkan.


Ku pikir hanya cuaca saja yang mempermainkanku ketika nanti senjaku datang. Tapi ternyata ia berlaku seperti cuaca juga. Senjaku kali ini pahit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar